Zero Waste, Ini Produk Samping Tilapia Regal Springs Indonesia Selain Fillet

Tak ada satu bagian pun yang terbuang dari pengolahan ikan tilapia (nila) menjadi fillet. Semua dapat diolah dan dimanfaatkan untuk keperluan yang berguna dan bernilai jual tinggi, mulai dari sisik, kepala, ekor, kulit, daging, bagian dalam (jeroan), tetelan hingga duri atau kerangka ikan. Semua kita olah dan dimanfaatkan sesuai peruntukannya.

“Tak ada satu bagian pun yang terbuang dari pengolahan ikan tilapia (nila) menjadi fillet. Semua dapat diolah dan dimanfaatkan untuk keperluan yang berguna dan bernilai jual tinggi, mulai dari sisik, kepala, ekor, kulit, daging, bagian dalam (jeroan), tetelan hingga duri atau kerangka ikan. Semua kita olah dan dimanfaatkan sesuai peruntukannya”.

 

Itulah sekilas penjelasan yang disampaikan Processing Plant Manager Regal Spring Indonesia, Joko Suhendro kepada sejumlah media yang melakukan kunjungan ke pabrik pengolahan ikan tilapia milik Regal Springs Indonesia yang berada di Dusun VII, Desa Lubuk Naga, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Kamis . Joko yang didampingi External Affairs Senior Manager, Kasan Mulyono, dan Eksternal Affair Officer, Afrizal, mengatakan, untuk kepala ikan nila, misalnya, dijual dalam keadaan segar kepada konsumen di Sumut untuk dikonsumsi (setelah diolah/dimasak). Kemudian, kerangka ikan (duri) dan ekor diolah menjadi tepung ikan untuk bahan baku pakan ikan lele. Sementara perut atau bagian dalam ikan (jeroan) diolah untuk dijadikan bahan bakar biodiesel. “Bahan bakar biodiesel ini kami gunakan sendiri untuk bahan bakar pabrik pengolahan pakan ikan kami,” kata Joko.

Selanjutnya, kata dia, kulit ikan diolah untuk dijadikan bahan baku kerupuk ikan serta bahan farmasi. Bahkan kulit ikan ini disebut paling baik untuk pengobatan luka bakar. Begitu juga dengan sisik ikan nila, menurut Joko, sudah diekspor untuk dijadikan bahan baku kosmetik. Karena sisik ikan nila mengandung collagen yang cukup tinggi. Sementara tetelan atau irisan daging nila yang mengandung duri-duri halus dan warna merah pada daging ikan diolah menjadi bakso ataupun nugget. “Semua hasil samping dari fillet tilapia itu dikelola oleh pihak ketiga, kecuali bagian perut ikan tadi, kami kelola sendiri untuk menghasilkan bahan bakar biodiesel pabrik pengolahan pakan ikan kami,” terang Joko.

Intinya, kata Joko, Regal Springs Indonesia selaku perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan ikan tilapia telah menerapkan kebijakan ‘zero fish waste policy’. “Regal Spring Indonesia juga telah memenuhi semua peraturan lokal dan nasional Indonesia, serta standar tambahan yang telah ditetapkan perusahaan untuk pengolahan naturally better tilapia dan penjualannya ke pasar,” jelasnya. Tidak hanya itu, kata Joko, sebagai usaha yang terintegrasi secara vertikal, pihaknya telah menjalankan model jaminan mutu dan cara pengolahan yang baik pada seluruh tahapan produksi.

30% Rendemen

Menurut Joko, untuk menghasilkan daging utuh (fillet), dari satu ekor ikan nila rendemen yang diperoleh hanya berkisar 30% saja, selebihnya ‘limbah’ yang kemudian diolah menjadi produk sampingan. “Bayangkan saja, rata-rata berkisar 110-115 ton nila segar per hari yang didatangkan dari lokasi pembesaran (budidaya) ikan nila di Danau Toba, hanya menghasilkan berkisar 47 ton fillet. Selebihnya, itu tadi, kepala, sisik, kerangka, jeroan, tetelan dan lain sebagainya merupakan produk sampingan yang dikelola pihak ketiga sesuai peruntukannya,” ucap Joko.

Dalam proses pengolahan fillet yang dilakukan di pabrik Regal Springs Indonesia, menurut Joko, dilakukan secara manual kecuali pelepasan kulit dari daging ikan dilakukan oleh mesin. “Kalau untuk pelepasan daging dari kerangka itu dilakukan secara manual. Karena pengolahan secara manual jauh lebih efektif dan memberikan hasil yang optimal dibanding menggunakan mesin. Kalau menggunakan mesih, tingkat kehilangan (loses) daging bisa mencapai 5%. Jadi cara pengolahan manual jauh lebih baik,” jelasnya.

Pekerjakan 1.737 Orang

Masih bersama Joko, dari hasil perbincangannya dengan sejumlah awak media, ikan nila yang diolah menjadi daging ikan (fillet) adalah ikan yang diperoleh dari hasil pembesaran selama enam hingga sembilan bulan dengan bobot ikan antara 1,1 sampai 1,2 kilogram per ekor. Dengan ukuran seperti itu, akan menghasilkan fillet sesuai permintaan pasar. Dalam proses pengolahannya, ikan-ikan nila sebanyak 110-115 ton tersebut diangkut dalam kondisi hidup dari Danau Toba ke pabrik di Naga Kisar dan diolah dalam hitungan jam, mulai dari pelepasan kepala, pelepasan daging ikan dari kerangka, pelepasan kulit dari daging ikan sampai pembersihan daging dari duri-duri halus yang sangat tidak disukai konsumen terutama pasar luar negeri.

Untuk kemudian fillet yang dihasilkan disimpan dalam cold storage pada suhu -18 derajat celcius, sebelum dipasarkan ke luar negeri (Eropa) dan domestik. “Dalam proses pengolahannya, kita bedakan daging bagian atas dan daging bagian bawah. Karena daging bagian atas jauh lebih baik dan lebih mahal harganya, karena ukuran dagingnya lebih tebal dibanding daging bagian bawah, yang sedikit lebih tipis,” ucap pria kelahiran Lampung Tengah ini. Terlepas dari itu semua, kata Joko, berdasarkan survei yang dilakukan lembaga independen asal Vietnam, ikan tilapia yang dikembangkan Regal Springs Indonesia pada keramba jaring apung (KJA) di Danau Toba merupakan salah satu dari dua ikan tilapia terbaik di dunia. Satu lainnya adalah berasal dari Guangzhou, China.

Mengenai tenaga kerja yang diberdayakan, menurut Joko, ada sekitar 1.737 orang yang bekerja di pabrik pengolahan Regal Springs Indonesia di Desa Naga Kisar, di mana 98% di antaranya berasal dari penduduk lokal. Semua karyawan tersebut, telah terlatih untuk menjalankan standar Regal Springs, termasuk memenuhi semua peraturan yang berlaku di Indonesia dan dilatih untuk memenuhi ketentuan kesehatan dan keselamatan. “Dari 1.737 tenaga kerja yang ada di pabrik ini, sekitar 68% atau 1.176 orang adalah pekerja laki-laki dan sisanya berkisar 32% atau 561 orang pekerja perempuan. Semuanya sudah terlatih dalam menjalankan standar Regal Springs Indonesia,” terang Joko mengakhir pertemuan tersebut.

 

Sumber : https://suaratani.com/news/liputan-khusus/zero-waste-ini-produk-samping-tilapia-regal-springs-indonesia-selain-fillet